Jember, 11 September 2025 – Persoalan sampah kian mendesak di Jawa Timur. Data 2024 mencatat, setiap hari provinsi ini menghasilkan lebih dari 12 ribu ton sampah. Lonjakan volume sampah ini semakin menekan kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang terbatas, sehingga diperlukan terobosan baru dalam pengelolaan.
Untuk menjawab masalah tersebut, Bakorwil V Jember, Jatim menyelenggarakan program Waste to Energy Initiative. Kegiatan ini dirancang untuk mendorong sistem pengelolaan sampah berkelanjutan berbasis energi, salah satunya melalui kolaborasi dengan TPS3R di berbagai wilayah.
Inisiatif ini selaras agenda pembangunan nasional, mendukung strategi berkelanjutan untuk menciptakan solusi pengelolaan sampah terpadu yang efektif. Rancangan Teknokratik RPJMN 2025–2029 menargetkan reformasi pengelolaan sampah terintegrasi hulu hilir, mendorong tercapainya circular economy berkelanjutan.
Target tersebut menekankan bahwa 38% timbulan sampah harus diolah di fasilitas pengelolaan, dengan 20% diantaranya sudah terdaur ulang. Untuk mencapainya, diperlukan peningkatan sumber daya manusia, penguatan sarana prasarana, dan adopsi teknologi baru di sektor persampahan.
“Kami ingin agar langkah di Jember ini sejalan dengan arah pembangunan nasional. Circular economy bukan hanya konsep, tapi strategi nyata agar sampah tidak lagi menjadi ancaman, melainkan peluang ekonomi dan energi,” ujar Kepala Bakorwil V Jember.
Kegiatan Bakorwil V Jember ini dihadiri oleh berbagai pengelola TPS3R, akademisi, praktisi lingkungan, dan masyarakat. Kegiatan yang sudah berlangsung tiga kali ini menekankan pentingnya edukasi, berbagi pengalaman, serta membangun jaringan antar TPS3R agar lebih mandiri.
Workshop ini tidak hanya menjadi tempat berbagi teori, melainkan juga ajang pertukaran praktik terbaik. Peserta diajak untuk melihat bagaimana pengelolaan sampah bisa menghasilkan manfaat berlapis: mulai dari lingkungan yang lebih bersih, peluang usaha baru, hingga potensi energi terbarukan.
Hadir sebagai narasumber, Direktur PT Asterra Energy Envirotama, menekankan pentingnya inovasi teknologi dalam pengelolaan sampah modern.
“Sampah harus dipandang sebagai peluang, bukan sekadar masalah. Dengan teknologi waste to energy, sampah dapat diubah menjadi sumber energi terbarukan yang mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Selain itu, model ini bisa menciptakan lapangan kerja baru dan mendukung kemandirian ekonomi masyarakat,” jelasnya.
Peserta workshop merasakan dampak positif signifikan, sebab materi kegiatan memberikan pengetahuan praktis yang langsung bisa mereka terapkan. Salah seorang pengelola TPS3R menyebutkan bahwa wawasan yang didapatkan sangat membantu dalam memotivasi mereka untuk lebih mandiri.
“Kami jadi paham bagaimana mengelola sampah dengan pendekatan energi. Ada semangat baru untuk mengubah TPS3R kami menjadi lebih produktif, bukan hanya mengurangi sampah, tapi juga menghasilkan nilai tambah,” ungkap salah satu peserta.
Melalui Waste to Energy Initiative, sampah yang semula dianggap beban kini dipandang sebagai aset berharga. Inisiatif ini sejalan dengan komitmen global menekan emisi karbon, mengurangi ketergantungan energi fosil, serta memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat.
Tulis Komentar